08-08-08 Ngga ngaruh <—kata bu Soto :D

Laper,
Jum’at siang perut keroncongan, ambil langkah lima ribu menuju warung Soto bu ( aduuuhh ampe sekarang gw kaga tau tuh nama ibu itu,, hehehe😀 )
“pesen satu mangkok, nasinya setengah, asin, jangan pake kecap. Minum Fruit Tea”
Ibu itu dah tau selera gw ternyata…. :”>
“wah….si ibu dah tau selera aku”
“Ya tau, lawong kalo makan siang disini terus!”
wakakaka, secara nih warung makan yang paling deket dari tempat gawe.
“Ngomong2 ada acara apaan bu?”
tanya-tanya, iseng-iseng berhadiah hohohoh
“Acara partai nomor delapan bagi-bagi delapan rupa sembako”
“Oooo….Ibu ngga ikutan?”
“saya sudah ngambil tadi dikasih pertama, sama dikasih ini”
Ibu itu nyodorin sebuah booklet
“Oooo…..intinya mah nyuruh milih nomer delapan ya bu?”
“Yah neng, yang udah puguh nemplok di kursi pejabat ajah ngga ngaruh sama kehidupan orang miskin kaya saya”
“Jangan gitu lah bu :(  “
(ada rasa sedih juga gw si ibu ngomong kek gitu)
“Mungkin belum bu, butuh proses” jawab gw nyantai
“Proses apa toh nduk, sudah jelas semuanya tuh cuma omong kosong. Mau partai islam atau ndak partai islam tujuanya mah sama,mau nomor delapan atau ndak kalo sudah diatas babay”

Wahahahaha ….. makin lama gw makin seneng nih, karena seorang pedagang sotopun sudah mulai mengkritisi demokrasi “sialan” ini.

“O…gitu, emang kemarin ibu ngga milih?”
“saya mah ikut2an aja, kalo ada kampanye doang ikut2. Lumayan dapet 10-20 ribu”
“Ooooo….. terus milih apa bu?” berharap tuh ibu ngasih jawaban
“GOLPUT”
Hahaha……Ummat makin cerdas. Hidup berdasarkan asas manfaat. Jangan salahkan Mereka, karena penguasa2 kita yang licik yang mengajarkan mereka seperti itu.
Hohoho
“Dah jadi neng sotonya, mangga disantap”
“Bismillah….” makan dolo dewh ^_^

Ditulis dalam Cerita. 8 Comments »

Aku hanya Ingin dimanjakan didalam Kamar….!

Memeluk, dipeluk, menyium, dicium, dan beberapa hal lagi yang bisa dikerjakan oleh sepasang kekasih. Itu sudah lumrah ada dimana-mana untuk zaman sekarang. Begitu terlihat payah seandainya tak bisa kita lakukan itu. Rani merebahkan tubuhnya, dihentakkan semua diatas sofa empuk.

“Kenapa ?” tanya Pita sang sahabat.
“Aku kesal!”
“Kesal?”
“Ya kesal”
“Kenapa?”
“Hm….sudah kuduga kau pasti akan bertanya ‘KENAPA’ “
“Bukankah memang harusnya seperti itu pertanyaanku?”
“Ya…aku tau!”
“So….?”
“Aku ingin bercerita!”
“Baiklah, aku akan mendengarkanya”
“Tapi sebelumnya aku ingin bertanya!”
“Silahkan, aku akan jawab jika aku bisa”
“Pernah disentuh oleh pria?”
“Pria?”
“Ya…pria yang bukan dari golongan keluarga mu tentunya”
“Oh…..”

Pita diam sejenak, dia bingung harus menjawab apa.
“Pertanyaan mu aneh!”
“Sudahlah jawab saja”
Rina melihat Pita dengan mimik muka yang dipenuhi oleh rasa penasaran.
“Sudah!” jawab Pita terpaksa.
“Dibagian apa!”
“Sudahlah Rani, pertanyaanmu begitu konyol. Aku tak suka.”
“OK…aku minta ma’af”
“Itu masa lalu yang buruk Ran, masa lalu yang harus kita jadikan ibroh. Masa lalu yang tak layak untuk dikenang. Karena kita sudah mempunyai Tsaqofah (Red : Pemahaman Tentang Islam)”
“PINTAR………” Rani langsung terperanjat dari sandaranya di sofa mpuk itu.
“Maksud mu?”
“Nah….sekarang aku mulai bercerita”

“Aku tadi habis dari Stasiun Kota, mengantarkan sesuatu yang penting untuk seseorang, aku melihat sepasang muda muda berpelukan mesra….sangat mesra. Saking mesranya sudah seperti suami istri…..”
“Itu hal yang biasa terjadi Ran….” Potong Pita.
“Tunggu, aku belum selesai bercerita”
“Ok……sorry”
“Lalu aku pindah duduk, aku duduk digerbong ke tiga dari 11 gerbong kereta, lalu……”
Rani terdiam sejenak.
“Lalu?” Pinta Pita penasaran.
“Aku melihat wanita dan Pria, wanita yang berpakaian Muslimah nyaris sempurna, Pria yang memakai celana diatas mata kaki. Sungguh indah melihat mereka berdua….”
“Lalu apa masalahnya Ran?”
“Aku belum selesai cerita Pita….”
“Ok…aku tak sabar…”
“Jangan diptong lagi kalo aku bercerita”
“Baiklah”
“wanita itu memakai kerudung dibawah pinggul, roknya berwarna Hijau tua serta baju atasan yang dipakai sangat indah. Tiba-tiba lelaki itu mencium kepala istrinya. Dibalas dengan wanita yang mungkin istrinya dengan pelukan hangat, diantara desakan manusia yang bermacam aktifitas. Ada penjual, pengemis, pencopet, dan banyak lagi. Kamu tau, aku langsung tidak respek dengan mereka”
“Lho, Kenapa?”
“Kamu tau jawabanya”
Rani beranjak dari sofa itu. Pita terdiam sambil berfikir keras.
“Mau kemana?”
“Ingin menitip pesan kepada malaikat”
“pesan?”
“Ya. sesuatu pesan?”
Pita menjadi bingung sangat dibuatnya.
“Menitip pesan untuk disampaikan kepada calon suamiku, entah siapapun itu”
“Hah?”
“Aku hanya ingin dimanjakan didalam kamar, dan didalam Rumah”

Pita menghela nafas….

Ditulis dalam Cerita. 4 Comments »

Membunuh sebuah Cerita

Terbujur kaku, menunggu sang malam mengetuk pintu murkanya. Air mata yang sedari tadi menghiasi ruang tamu membuatku bergemetar. “Apakah akan ada banjir air mata ?” Ah…tidak…laki-laki itu memang pantas mati. Laki-laki yang sudah mengacak-ngacak hatiku. Membuatnya tak pernah bisa disembuhkan Oleh apapun. Walau dia memberikan ku uang setinggi gunung dan emas seluas lautan. Hanya satu yang bisa membuat hatiku sedikit mema’afkan. Yaitu gantikan dengan MAYAT mu.

Aku terduduk di pojok rumah yang ku anggap sebagai istana setan. Istana yang penuh kebohongan, kemunafikan, hidup dengan uang tapi tidak dengan hati. Aku ikut menangis melihat mayat yang terbujur kaku. Menangis karena senang, ini adalah tangis kebahagian. Aku sangat ikhlas mengeluarkan air mata bahagia ini, walau perutku telah membesar karena ulahnya. Yah….ulah laki-laki yang sedang terbujur kaku itu. Semua orang sangat terpukul atas kepergianya. Tapi tidak termasuk aku., aku bersujud dan bersyukur karena Tuhan mendengarkan permintaan dan permohonan ku selama ini. “Ya Allah….terima kasih”

“Saya turut berduka cita atas kepergian Almarhum” Ku ucapkan kalimat menjijikan itu kepada istrinya. Istri sekaligus musuh besarku, musuh yang tak pernah tau siapa aku. Sial, aku terpaksa mengucapkan kalimat bodoh itu, harusnya kubilang “AKU TURU BERSUKA CITA”
tapi aku tak sampai hati.

Aku melangkah keluar dan melewati almarhum, almarhum seseorang yang akan masuk kedalam titian api nereka, neraka yang paling menyiksa.

“Selamat jalan mas, Selamat jalan Suhardi. Selamat bertemu dengan Kawanmu yang bernama SETAN”

Setelah ku mendatangi mayatnya, aku tak sudi untuk melihatnya dikubur. sangatlah tidak sudi. Kuharamkan tanah itu terinjak oleh anak yang sedang kukandung ini.

Merebahkan tubuh yang akan membuncit kesofa empuk di sebuah hotel disudut kota Jakarta, itu yang sedang kulakukan, aku merasa puas laki-laki itu terbunuh walau tidak dengan tanganku sendiri, Mungkin Tuhan juga murka terhadapnya, terhadap kelakuan bejatnya, terhadap hati yang tak pernah tersirami oleh kasih dan sayang. Ah, sudah, cukup, biarkan sekarang aku bernafas dengan lega.

***

Sore ini hujan turun, rintik-rintik, seperti rintihan seorang gadis yang ditinggalkan oleh kekasihnya, atau seperti anak bayi yang bersedih ketika ibunya terluka.
“Mbok, bisa tolong bikinkan aku segelas teh hangat?” pintaku pada seorang wanita tua baya,
“Iyya non”
Wanita tua baya itu adalah mbok imah, yang selalu menemaniku dan mendengar cerita-ceritaku, dia telah ku anggap seperti ibuku sendiri, setelah ibu membuangku, setelah aku keluar dari sebuah Panti Asuhan, dan setelah aku menjadi seorang gadis penghibur malam atau bisa disebut juga sebagai pelacur yang masih perawan.

“Non, jangan melamun gitu, nanti kesehatan non terganggu. Atau malah calon cucuk si mbok itu sakit gimana?”
“Nggak mbok, aku nggak melamun. Aku hanya sedang bahagia”
“Alhamdulilah toh non, kalo non sudah mulai bahagia”
“Yah mbok. Aku sangat bahagia. Akhirnya laki-laki itu mati, dia sedang berkawan dengan cacing, belatung, dan para malaikat yang sedang mempertanyakan kegiatanya sewaktu hidup”
Mbok imah terdiam, mukanya pucat pasi.
“Kenapa mbok?”
“Ndak non, ndak ada apa-apa”
“Suhardi telah meninggal mbok”
“Syukurlah non, Alhamdulillah”
“Mbok bahagia?”
“Mbok akan bahagia jika non pun bahagia”
“Syukurlah mbok!”
“Non….?”
“Ya mbok?”
“Tapi….non!”
“Kenapa mbok? mbok memikirkan bayi yang sedang kukandung ini? darah daging seorang manusia yang tak berperasaan itu?”
Mbok Imah mengangguk pelan
“Non ndak akan berbuat nekat kan?”
“Ngga bi, aku sudah sadar. Aku sadar saat melihat guratan wajah si Mbok sebagai ibuku. Ibu yang melahirkan aku”
Mbok Imah perlahan menitiskan air matanya. Sedikit demi sedikit ku teguk teh hangat yang mulai dingin.
“Setalah mbok ada dihadapanku, aku merasakan Mbok adalah sosok ibu bagiku. Sehingga aku keluar sebagai…..”
“Sudahlah non, ndak usah diingat lagi”
“Aku keluar sebagai pelacur yang masih perawan”
“Sudah….sudah….mbok ndak mau dengar lagi kata-kata non. Mendingan sekarang non mandi, air hangatnya sudah mbok siapkan”
“Aku malas bergerak mbok!”
“Non, ingat! non sedang mengandung”
“Kandungan yang tak pernah kuharapkan”
“Walau begitu non tetap saja seorang ibu, apa non mau kejadian yang non rasakan akan dirasakan lagi oleh anak non yang ndak pernah tau kejadian apa-apa toh?”
“Ya Mbok, aku mengerti. AKu mandi dulu!”

Aku bergegas meninggalkan ruang tivi, meninggalkan mbok Imah yang ingin melanjutkan menonton tivi, walau matanya berkaca.

Hmmm……….. Pelacur yang masih Perawan!
Bibir ku tersungging manis.

(Bersambung….)

Ditulis dalam Cerita. 3 Comments »

Kisah Pilu_ku



Kisah Piluku…..

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagian memliki wajah yang tampan, kebahagian memeliki banyak pengagum disekolah, kebahagian karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunya ibu BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu.

Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, aku ingin menjadi yang terwah, tak ada satupun yang cacat dari dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggalah aku anak semata wayang yang harusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak ku hiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedangkan ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan disebuah dirumah jahit sederhana.

Pada suatu saat ibu datang kesekolah untuk menjenguk keadaan ku. Karena sudah bebarapa hari aku tak pulang kerumah dan menginap dirumahku. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki menjadi cacat, akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.

Tepat disaat istri rahat, salah satu guru yang berpapasan denganku dikantin sekolah memanggilku.

“Afkar, kau kedatangan tamu!” ucap guru yang berpapasan denganku itu.

“Siapa bu ?”

“Lihat saja ke ruang tamu sekolah!”

Perintah guru itu segera kulaksanakan, aku berjalan melewati lorong-lorong kelas yang sedang ramai, anak-anak sepantarku sedang asiknya menikmati hidup yang semu ini. Beberapa menit kemudian sampailah aku didepan pintu ruang tamu sekolah. Kulihat sosok wanita tua sedang duduk. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunya satu mata. Dan yang selalu membuat aku malu.

“Afkar ?” Ibu memanggilku

“Mau ngapain kamu kesini? Kamu datang hanya untuk mempermalukan aku!”

Beberapa anak-anak yang sedang berjalan didepan ruang tamu sekolah melihat kedalam ruangan yang menjadi neraka bagiku. Bentakkan dariku, membuat dirinya ingin segera bergegas pulang. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku.

Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, malu sangat. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan.

“AFKAR. IBU MU MATANYA SATU YAH?”

Terasa suntikan yang mematikan mendapat pertanyaan seperti itu, aku hanya melewatinya dengan wajah sinis.

Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah, dan diterima di sebuah Institu Negeri di singapura. Aku mendapatkan Beasiswa yang ku incar, kukejar, dan aku ternyata berhasil mendapatkanya. Dengan bangga kubusungkan dada pada orang-orang yang sempat menghinaku. Aku berangkat pergi merantau ke Singapur tanpa memberi tau Ibu, karena bagiku itu tidak perlu, aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan ibuku. Seseorang yang selalu mengahalangi kemajuanku. Karena aku MALU.

Di singapur, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaranku. AKu sukses dan pada suatu saat aku menikah dengan seorang gadis Indonesia yang menetap di singapur. Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggal kusangatlah mewah, aku mempunyai satu anak laki-laki berusia tiga tahun, dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku menjaminkan nyawa untuk putraku itu.

10 tahun aku menetap disingapur, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis, dan nyaris sama sekali aku tak pernah memikirkan nasip ibuku. Ibu yang terlah melahirkan aku kedunia ini, membuatku berpijak didunia. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskanya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.

Hingga pada suatu hari, putra sulungku sedang asik bermain didepan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibu, Ibukun datang kesingapur. Entah untuk apa dan dari mana dia mendapatkan ongkos. Seketika saja ibu ku usir. Dengan enteng aku mengatakan.

“HEY, PERGILAH KAU. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!”

Dan tanpa membalas perkataan kasarku. Ibu lalu tersenyum,

“Ma’af kalau begitu saya salah alamat”

Tanpa merasa terhunus, aku masuk kedalam rumah. Sempat istri menanyakan siapa yang datang dan kumarahi, dan aku menjawab “PENGEMIS”

Beberapa bulan kemudian, datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Akupun datang untuk menghadirinya dengan berlasan pada istriku bahwa aku akan dinas keluar negeri. Tibalah aku dikota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini. Satu hal yang kutakutkan, mereka menanyakan ibu ku yang memalukan itu, karena matanya yang Buta. Tapi untung saja tak ada sepatah kalimat “IBU” yang menghantar padaku.

Reuni selesai, sebelum pulang kesingapur. Aku ingin melihat keadaan rumahku. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya didepan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri jijik melihatnya. Dengan rasa tak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan Bak kapal pecah yang baru saja terjun dan berhambur ketanah. Aku tak menemukan sosok wanita tua dalam rumah itu, entahlah dia kemana tapi aku merasa beruntung tak menemuinya. Bergegas aku keluar dan tiba-tiba salah satu tetangga dekat rumahku mengenaliku.

“Afkar ? subhanallah afkar, akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia dua minggu lalu”

“Oh….”

Hanya perkataan itu yang bias keluar dari mulutku. Tak tau mengapa tak ada tetesan air mata,jangan tetesan airmata sedikit rasa saja sedih tak aku rasakan saat mendengar ibuku meninggal.

“Ini, sebelum meninggal, ibumu memberikan surat ini untukmu”

Ibu-ibu yang menghampiriku segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.

Untuk anakku Afkar yang Aku cintai

Demi Allah yang menggenggam nyawaku, yang menguasai ruhku, yang mencintaiku seperti aku mencintaimu walau kau membenciku sangat. Anak ku afkar, ibu tahu kan akan datang ke acara Reuni yang diadakan oleh sekolahmu. Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap sujudku pada Allah pemilik arsy! Aku meminta ampunan untukmu nak.

Asal kau tau saja afkar anakku tersayang, mata yang membuat mu malu ini adalah salah satu dari matamu. Waktu kau kecil, kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayah tidak terluka apa-apa sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat, maka aku berikan satu mataku ini untukmu.

Ya……salah satu matamu adalah mataku.

Kau melihat dengan mataku nak, dan aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.

Do’akanlah aku diterima disisiNya. Saat aku menulis surat ini, aku yakin maut sudah mengetuk pintu kehidupanku.

Ibumu tercinta

90

Bak petir disiang bolong yang menghatam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam!

Aku pulang seperti mayat hidup, tak satu patah katapun keluar dari mulutku menyambut senyuman putra tersayangku pun aku tak mampu. Aku benar-benar seperti manusia yang tak bernyawa. Beberapa bulan kemudian, anakku meninggal dunia karena kecelakaan terlindas sebuah bus besar, tubuhnya kecilnya hancur lebur. Jadilah aku mayat yang benar-benar hidup setelah istrikupun ikut meninggalkan aku.

BY :BUNGAREVOLUSI……….

Ditulis dalam Cerita. 2 Comments »

Antara Jamil dan Jamilah ( cerpen euy )

Waktu selalu saja berputar, tidak bisa tidak untuk tidak berputar, sehingga mengharuskanku untuk terbangun dan mengerjakan kegiatan rutin, SEKOLAH !!!!
Kedua pipi dan dahi mamahku sudahku cium, tak lupa tangan yang sudah susah payah membesarkan inipun kukecup mesra, dan memberikan salam hangat padanya dipagi yang dingin.

“Pulang jam berapa hari ini ?” Tanya mamah tercinta
“palingan jam atu juga dah pulang, emang napa mam? mau ngajak jalan-jalan lagi yah? ahahaha…ashoooyyy!”
“Beuh, pikiranya jalan-jalan melulu. kamunya aja jarang dirumah. gimana mau diajak jalan2?”

ah,,,,,,mamahku nih emang gaul…….

Pagi ini cerah, langkah kaki untuk segera meluncur kesekolahpun terasa ringan. Tak seperti hari-hari biasanya. Aku begitu males untuk berangkat kesekolah, bertemu dengan kakak-kakak kelas yang selalu membuat tangan lembutku ini terasa gatal, gatal untuk menyentuh muka meraka dengan SPOKAT kesayanganku ini. Tapi sayang seribu sayang, aku kasian kalau-kalau sepatuku menempel dimuka mereka dan terkena Virus ganjen. Oh no!

GERBANG sekolah masih sepi, tak kutemukan beberapa berandalan nongkrong digerbang itu. Entah,,,,,apa mereka masih dalam mimpi. Yang jelas aku sangat senang. Karena tak ada lagi yang mengganggu ku.

“TARIIIIIIIIIII………………….”
Tiba-tiba suara dari arah belakang mengagetkan aku,
“Astagfirullah, Ayu…..ngagetin gw aja lo!”
“Sory..sory, abis tumben-tumbenan sih lo, dateng pagi-pagi buta gini. mau copotin predikat MISS kesiangan lo yah?”
Satu lagi yang bikin males kesekolah, yaitu Predikat “MISS KESIANGAN”
“Ngga, gw lagi mood aja dateng kesekolah. serba salah, dateng  pagi diomong, dateng kesiangan juga diomong…….”
“Ye…segitu aja sewot non! darah tingginya nanti aja disimpen buat siang. Ngadepin Raja jail. OK?!”
Hmmm,,,,ayu ini adalah salah satu sahabatku, selama sekolah di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan  ini aku dan dia selalu bersama. dan usahaku untuk mengajaknya menjadi muslimah Kaffah yang memperjuangkan dien ini tak akan berhenti sampai datang kehendak Allah.

Hari ini adalah hari sabtu, dimana seharian ini pelajaran pertama sampai akhir adalah pelajaran AKUNTANSI….oh…no…….aku mulai tau kenapa hari aku semangat. Karena pelajarin ini adalah pelajaran tervaforit ku setelah matematika.  Bukan hanya pelajaranya saja, tetapi gurunya juga. Nandang. itulah nama guru ku yang paling tampan, baik, sederhana, bijaksana, dan begitu menarik perhatian. Yang membuat aku bangga padanya, dia menikah karena ingin menyelamatkan wanita itu dari agamanya. Seorang nasrani yang ingin masuk islam tapi harus menikah dahulu. Ah……..sayang, udah nikah……kalo belum EMBAT ajah…hahahahaha ( becanda )

Pelajaran dimulai, pembahasan dari A sampai Z pun selesai. Matahari mulai menyengat, panas dan sangat panas.
“Tari, panas nih. Pulang bareng kakak aja yuk! Naik motor” Ajak salah satu kakak kelas yang namanya ter blacklist dara daftar orang-orang yang kuhormati. Gerbangpun ramai, untung ada Ayu yang menemaniku, bisa-bisa terjadi Khalwat antara aku dan dia.
“Ayo…..!” jawabku
“Beneran?”
“Iyya beneran”
Ayu menatapku heran, sangat heran
“Tar ?” wajahnya menyimpan segudang tanda tanya, dan hanya senyuman yang bisa kubalas.
“Sebentar yah kakak ambil motor dulu”
“Iya ambil, tapi satu syarat” Pintaku
“APa? ga boleh deketan? ga boleh dempetan? itu mah gampang!”
“Bukan” jawabku sinis.
“Nyetir motornya sambil nutup mata”
Olalala…..hahahaha
kena deh dikerjain!

Aku dan Ayu segera bergegas pulang, kami berpisah dipertigaan depan sekolah.
“sampai ketemu senin yah Tar!”
“Yoi…..”
cipika, cipikipun terjadi.
aku melangkah pulang dengan senang, bisa juga mengelabui pria pria jalang seperti mereka.

Sampai rumah, aroma Ayam goreng dan tempe tercium dari depan. Mulai cacing-cacing diperutku melompat-lompat kelaparan….hihihihi

“Assalamu’alaikum, Aku pulang bibeh!”
“wa’alaikumsalam, tumben cepet biasanya ngayap dulu!” Mamah langsung menyindir
“Ngga ada rapat hari ini, Free dirumah!”
“baguslah, setiap hari rapat melulu, ga bosen apa?”
“Kan organisasi yang Tar ikutin ga cuma satu mah! lagipula kewajiban Tar dirumahkan ga lalai. hehehe”
“Bisa aja kamu jawabnya”
ganti seragam, sholat dhuhur, langsung santap makanan yang baru saja matang. Kekenyangan, aku mulai merasakan ngantuk. Ngantuk berat, ah….dasar pemalas. Kadang aku berfikir. hidupku begitu nikmat, bisa makan, sekolah, tidur, merasakan kasih sayang orang tua, tapi teman-temanku, saudara-saudara seaqidahku apakah merasakan hal yang sama. “YA RABB…aku BERSYUKUR pada_MU. ALhamdulillah”

Tiba-tiba masuk sebuah SMS

From   : M’ Asih
“Ass, dek! tuk aCra bSok. AmbiL sPanDuknYa diKosaN mba yaH.kosaN JAMILAH. deket KamPus jugA kOk, TaNya aja saMa oraNG seKitr. SyuKron”

segera kumemainkan keypad HP dan kubalas sms Mbak Asih
TO      : M’ Asih
” W3, OKEH my SwEEty. waiT me ”

tak berapa lama ku terima balasan sms dari mba Asih

From : M’ Asih

” Langsung mSk Ja yA deK. TaKut aKu keTiduRan, soaLnya caPe sNgt. Af1 ”

untuk mengirit pulsa yang sakaratul, aku tak membalas lagi sms mba Asih. Maklumlah anak sekolah.

tadinya aku berniat tidur siang, tapi karena tiba-tiba langit mendung bersegeralah aku berangkat menuju kosan mba Asih. ditengah perjalanan Hujan mulai turun, lama-lama deras, mau tak mau aku harus turun dari angkot, walhasil Jilbab dan kerudung ku basah kuyup semua, untung aku selalu memakai dobel kain kudung jadi auratku tak tembus pandang karena  kehujanan.

Hujan makin deras, sangat deras. sudah basah kuyup begini kufikir kuteruskan saja perjalanan. Menghampiri tukang gorengan.
“Pak, tau kosan Jamilah? katanya disekitar sini yah?”
“Apa Nenk?”
“Kosan Jamilah dimana Pak?” aku harus mengeluarkan suara lebih keras karena Hujan menutupi arus suara kami
“Oia, kosan Jamil, nenk masuk ajah ke gang itu ( bapak itu menunjuk sebuah gang pas didepanku ) lurus mentok, belok kiri rumah kedua”
“OK, makasih yah pak!”
“Hujan atuh nenk!”
“Gpp pak, sudah terlanjur!”
Aku segera berlari menuju kosan mba Asih.
Begitu banyak gang, aku tetap berlari aduh mana ujan ngga ada ojek bechek…hihihi
untuk memastikan lagi, aku bertanya lagi pada ibu tukang nasi bungkus didekat daerah itu.

“Assalamu’alaikum. permisi bu. numpang tanya. Kosan Jamilah dimana yah ?” masih dengan suara keras. karena hujan masih tetep deras
“oh….Kosan JAMIL itu nenk, deket!” Tunjuk itu kesebuah rumah dengan pagar yang sudah terbuka, serta pintu rumah juga dalam keadaan terbuka. mungkin mba Asih sudah tau bahwa aku akan segera datang.
Aku bergegas menuju sana, kuharap mba Asih mau meminjamkan aku jilbab dan kerudung untuk menggantikan yang basah.
Tanpa permisi dan sesuai perintah mba Asih aku bergegas masuk kehalaman. sebelum masuk kedalam aku sempat mengucapkan salam. Mungkin karena deras nya hujan jadi tak ad ayang mendengar.
Ku mulai memasuki kosan mba Asih, awal mula masuk, agak aneh juga karena ada beberapa sendal cowok, Ah….mungkin itu sendal rumah untuk mba-mba yang kos disini.
Karena tak ada jawaban salam dan sekali lagi aku mengikuti perintah mba Asih yang menyuruh langsung masuk. Ku bergegas masuk, perlahan,
TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKK……………….!!!!!!
“Astagfirullah”
Ada enam ikhwan yang sedang berkumpul, didalam kamar pertama yang aku jumpai. Saat itu serasa petir disiang bolong, aku terhentak kaget.
“Kenapa kosan akhwat ada ikhwanya?” pikirku dalam hati.
aku masih tertegun didepan kamar itu.
dan seketika mereka melihat ku sambil berkata
“ASTAGFIRULLAH” dengan serentak
“Ya Allah ukhti, ini kosan ikhwan kenapa kesini? mau cari siapa ?” tanya salah satu penghuni rumah itu.
“Loh, bukanya ini kosan akhwat? kosan JAMILAH!”
“Ini kosan JAMIL ukhti! kosan JAMILAH masih Tiga blok lagi dari sini” timpal salah satu temanya.
“Masya Allah jadi saya salah masuk?”
MALU SETENGAH MATI….itulah yang akurasakan saat ini.
Ternyata bapak gorengan dan ibu tukang Nasi bungkus itu salah memberi tahuku.
ternyata MISKOMUNICATION….. Entahlah….aku pulang melangkah dan Lesu….tetapi akhirnya jadi Lucu….hahahaha

Ditulis dalam Cerita. 2 Comments »

TragiZzzZZ….. . . . . .

apakah kamu tau bintang bintang itu tak lagi mulai menyapaku.
kamu tau juga ga?
kalo bulan disana sudah tak mau lagi berkedip denganku.
Dan matahari mulai meredup disiang hari yang membuatnya bannga.
Saat mata mata malam terpejam menjelma menjadi kebisuan.
Dalam tempurung yang tertutup ada sebuah harapan
Agar semesta mau untuk kembali lagi bersama Mimpi yang masih terkatung katung
Harapanpun hanya menjadi sebuah harapan….
yang masih tergeletak diranjang mimpi
Apakah harus kian menjelma seperti itu ?
Apakah harus Menjadi lemah seperti itu ?
Katakpun menangis
Menjerit
Melihat kondisiku
TRAGIS…..

Ditulis dalam Cerita. 2 Comments »

akaNkaH ada haRi ……..?!?!?!?!

Langkah ini kian berhenti
Menyusuri mati nya hati
Seolah berbicara pada sang surya
Akankah ada hari itu ???

Berjuta asa tergealntung dalam angan
memapahku dalam keterpurukan
Menjamahku dalam kegelisahan
Memukul dan mencaci ku dalam ke alfaan
Aku tak mampu TakLukan waktu

Tataplah aku
Bungkamlah mulutku
Peganglah kedua tanganku
Jatuhkan badanku
dan…
Biarkan aku berontak

Ditulis dalam Cerita. Leave a Comment »