Membunuh sebuah Cerita

Terbujur kaku, menunggu sang malam mengetuk pintu murkanya. Air mata yang sedari tadi menghiasi ruang tamu membuatku bergemetar. “Apakah akan ada banjir air mata ?” Ah…tidak…laki-laki itu memang pantas mati. Laki-laki yang sudah mengacak-ngacak hatiku. Membuatnya tak pernah bisa disembuhkan Oleh apapun. Walau dia memberikan ku uang setinggi gunung dan emas seluas lautan. Hanya satu yang bisa membuat hatiku sedikit mema’afkan. Yaitu gantikan dengan MAYAT mu.

Aku terduduk di pojok rumah yang ku anggap sebagai istana setan. Istana yang penuh kebohongan, kemunafikan, hidup dengan uang tapi tidak dengan hati. Aku ikut menangis melihat mayat yang terbujur kaku. Menangis karena senang, ini adalah tangis kebahagian. Aku sangat ikhlas mengeluarkan air mata bahagia ini, walau perutku telah membesar karena ulahnya. Yah….ulah laki-laki yang sedang terbujur kaku itu. Semua orang sangat terpukul atas kepergianya. Tapi tidak termasuk aku., aku bersujud dan bersyukur karena Tuhan mendengarkan permintaan dan permohonan ku selama ini. “Ya Allah….terima kasih”

“Saya turut berduka cita atas kepergian Almarhum” Ku ucapkan kalimat menjijikan itu kepada istrinya. Istri sekaligus musuh besarku, musuh yang tak pernah tau siapa aku. Sial, aku terpaksa mengucapkan kalimat bodoh itu, harusnya kubilang “AKU TURU BERSUKA CITA”
tapi aku tak sampai hati.

Aku melangkah keluar dan melewati almarhum, almarhum seseorang yang akan masuk kedalam titian api nereka, neraka yang paling menyiksa.

“Selamat jalan mas, Selamat jalan Suhardi. Selamat bertemu dengan Kawanmu yang bernama SETAN”

Setelah ku mendatangi mayatnya, aku tak sudi untuk melihatnya dikubur. sangatlah tidak sudi. Kuharamkan tanah itu terinjak oleh anak yang sedang kukandung ini.

Merebahkan tubuh yang akan membuncit kesofa empuk di sebuah hotel disudut kota Jakarta, itu yang sedang kulakukan, aku merasa puas laki-laki itu terbunuh walau tidak dengan tanganku sendiri, Mungkin Tuhan juga murka terhadapnya, terhadap kelakuan bejatnya, terhadap hati yang tak pernah tersirami oleh kasih dan sayang. Ah, sudah, cukup, biarkan sekarang aku bernafas dengan lega.

***

Sore ini hujan turun, rintik-rintik, seperti rintihan seorang gadis yang ditinggalkan oleh kekasihnya, atau seperti anak bayi yang bersedih ketika ibunya terluka.
“Mbok, bisa tolong bikinkan aku segelas teh hangat?” pintaku pada seorang wanita tua baya,
“Iyya non”
Wanita tua baya itu adalah mbok imah, yang selalu menemaniku dan mendengar cerita-ceritaku, dia telah ku anggap seperti ibuku sendiri, setelah ibu membuangku, setelah aku keluar dari sebuah Panti Asuhan, dan setelah aku menjadi seorang gadis penghibur malam atau bisa disebut juga sebagai pelacur yang masih perawan.

“Non, jangan melamun gitu, nanti kesehatan non terganggu. Atau malah calon cucuk si mbok itu sakit gimana?”
“Nggak mbok, aku nggak melamun. Aku hanya sedang bahagia”
“Alhamdulilah toh non, kalo non sudah mulai bahagia”
“Yah mbok. Aku sangat bahagia. Akhirnya laki-laki itu mati, dia sedang berkawan dengan cacing, belatung, dan para malaikat yang sedang mempertanyakan kegiatanya sewaktu hidup”
Mbok imah terdiam, mukanya pucat pasi.
“Kenapa mbok?”
“Ndak non, ndak ada apa-apa”
“Suhardi telah meninggal mbok”
“Syukurlah non, Alhamdulillah”
“Mbok bahagia?”
“Mbok akan bahagia jika non pun bahagia”
“Syukurlah mbok!”
“Non….?”
“Ya mbok?”
“Tapi….non!”
“Kenapa mbok? mbok memikirkan bayi yang sedang kukandung ini? darah daging seorang manusia yang tak berperasaan itu?”
Mbok Imah mengangguk pelan
“Non ndak akan berbuat nekat kan?”
“Ngga bi, aku sudah sadar. Aku sadar saat melihat guratan wajah si Mbok sebagai ibuku. Ibu yang melahirkan aku”
Mbok Imah perlahan menitiskan air matanya. Sedikit demi sedikit ku teguk teh hangat yang mulai dingin.
“Setalah mbok ada dihadapanku, aku merasakan Mbok adalah sosok ibu bagiku. Sehingga aku keluar sebagai…..”
“Sudahlah non, ndak usah diingat lagi”
“Aku keluar sebagai pelacur yang masih perawan”
“Sudah….sudah….mbok ndak mau dengar lagi kata-kata non. Mendingan sekarang non mandi, air hangatnya sudah mbok siapkan”
“Aku malas bergerak mbok!”
“Non, ingat! non sedang mengandung”
“Kandungan yang tak pernah kuharapkan”
“Walau begitu non tetap saja seorang ibu, apa non mau kejadian yang non rasakan akan dirasakan lagi oleh anak non yang ndak pernah tau kejadian apa-apa toh?”
“Ya Mbok, aku mengerti. AKu mandi dulu!”

Aku bergegas meninggalkan ruang tivi, meninggalkan mbok Imah yang ingin melanjutkan menonton tivi, walau matanya berkaca.

Hmmm……….. Pelacur yang masih Perawan!
Bibir ku tersungging manis.

(Bersambung….)

Ditulis dalam Cerita. 3 Komentar »

Kisah Pilu_ku



Kisah Piluku…..

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagian memliki wajah yang tampan, kebahagian memeliki banyak pengagum disekolah, kebahagian karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunya ibu BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu.

Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, aku ingin menjadi yang terwah, tak ada satupun yang cacat dari dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggalah aku anak semata wayang yang harusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak ku hiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedangkan ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan disebuah dirumah jahit sederhana.

Pada suatu saat ibu datang kesekolah untuk menjenguk keadaan ku. Karena sudah bebarapa hari aku tak pulang kerumah dan menginap dirumahku. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki menjadi cacat, akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.

Tepat disaat istri rahat, salah satu guru yang berpapasan denganku dikantin sekolah memanggilku.

“Afkar, kau kedatangan tamu!” ucap guru yang berpapasan denganku itu.

“Siapa bu ?”

“Lihat saja ke ruang tamu sekolah!”

Perintah guru itu segera kulaksanakan, aku berjalan melewati lorong-lorong kelas yang sedang ramai, anak-anak sepantarku sedang asiknya menikmati hidup yang semu ini. Beberapa menit kemudian sampailah aku didepan pintu ruang tamu sekolah. Kulihat sosok wanita tua sedang duduk. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunya satu mata. Dan yang selalu membuat aku malu.

“Afkar ?” Ibu memanggilku

“Mau ngapain kamu kesini? Kamu datang hanya untuk mempermalukan aku!”

Beberapa anak-anak yang sedang berjalan didepan ruang tamu sekolah melihat kedalam ruangan yang menjadi neraka bagiku. Bentakkan dariku, membuat dirinya ingin segera bergegas pulang. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku.

Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, malu sangat. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan.

“AFKAR. IBU MU MATANYA SATU YAH?”

Terasa suntikan yang mematikan mendapat pertanyaan seperti itu, aku hanya melewatinya dengan wajah sinis.

Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah, dan diterima di sebuah Institu Negeri di singapura. Aku mendapatkan Beasiswa yang ku incar, kukejar, dan aku ternyata berhasil mendapatkanya. Dengan bangga kubusungkan dada pada orang-orang yang sempat menghinaku. Aku berangkat pergi merantau ke Singapur tanpa memberi tau Ibu, karena bagiku itu tidak perlu, aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan ibuku. Seseorang yang selalu mengahalangi kemajuanku. Karena aku MALU.

Di singapur, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaranku. AKu sukses dan pada suatu saat aku menikah dengan seorang gadis Indonesia yang menetap di singapur. Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggal kusangatlah mewah, aku mempunyai satu anak laki-laki berusia tiga tahun, dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku menjaminkan nyawa untuk putraku itu.

10 tahun aku menetap disingapur, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis, dan nyaris sama sekali aku tak pernah memikirkan nasip ibuku. Ibu yang terlah melahirkan aku kedunia ini, membuatku berpijak didunia. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskanya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.

Hingga pada suatu hari, putra sulungku sedang asik bermain didepan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibu, Ibukun datang kesingapur. Entah untuk apa dan dari mana dia mendapatkan ongkos. Seketika saja ibu ku usir. Dengan enteng aku mengatakan.

“HEY, PERGILAH KAU. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!”

Dan tanpa membalas perkataan kasarku. Ibu lalu tersenyum,

“Ma’af kalau begitu saya salah alamat”

Tanpa merasa terhunus, aku masuk kedalam rumah. Sempat istri menanyakan siapa yang datang dan kumarahi, dan aku menjawab “PENGEMIS”

Beberapa bulan kemudian, datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Akupun datang untuk menghadirinya dengan berlasan pada istriku bahwa aku akan dinas keluar negeri. Tibalah aku dikota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini. Satu hal yang kutakutkan, mereka menanyakan ibu ku yang memalukan itu, karena matanya yang Buta. Tapi untung saja tak ada sepatah kalimat “IBU” yang menghantar padaku.

Reuni selesai, sebelum pulang kesingapur. Aku ingin melihat keadaan rumahku. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya didepan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri jijik melihatnya. Dengan rasa tak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan Bak kapal pecah yang baru saja terjun dan berhambur ketanah. Aku tak menemukan sosok wanita tua dalam rumah itu, entahlah dia kemana tapi aku merasa beruntung tak menemuinya. Bergegas aku keluar dan tiba-tiba salah satu tetangga dekat rumahku mengenaliku.

“Afkar ? subhanallah afkar, akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia dua minggu lalu”

“Oh….”

Hanya perkataan itu yang bias keluar dari mulutku. Tak tau mengapa tak ada tetesan air mata,jangan tetesan airmata sedikit rasa saja sedih tak aku rasakan saat mendengar ibuku meninggal.

“Ini, sebelum meninggal, ibumu memberikan surat ini untukmu”

Ibu-ibu yang menghampiriku segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.

Untuk anakku Afkar yang Aku cintai

Demi Allah yang menggenggam nyawaku, yang menguasai ruhku, yang mencintaiku seperti aku mencintaimu walau kau membenciku sangat. Anak ku afkar, ibu tahu kan akan datang ke acara Reuni yang diadakan oleh sekolahmu. Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap sujudku pada Allah pemilik arsy! Aku meminta ampunan untukmu nak.

Asal kau tau saja afkar anakku tersayang, mata yang membuat mu malu ini adalah salah satu dari matamu. Waktu kau kecil, kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayah tidak terluka apa-apa sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat, maka aku berikan satu mataku ini untukmu.

Ya……salah satu matamu adalah mataku.

Kau melihat dengan mataku nak, dan aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.

Do’akanlah aku diterima disisiNya. Saat aku menulis surat ini, aku yakin maut sudah mengetuk pintu kehidupanku.

Ibumu tercinta

90

Bak petir disiang bolong yang menghatam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam!

Aku pulang seperti mayat hidup, tak satu patah katapun keluar dari mulutku menyambut senyuman putra tersayangku pun aku tak mampu. Aku benar-benar seperti manusia yang tak bernyawa. Beberapa bulan kemudian, anakku meninggal dunia karena kecelakaan terlindas sebuah bus besar, tubuhnya kecilnya hancur lebur. Jadilah aku mayat yang benar-benar hidup setelah istrikupun ikut meninggalkan aku.

BY :BUNGAREVOLUSI……….

Ditulis dalam Cerita. Leave a Comment »