Assalamu alaikum WW.,
Akhina fillah Tifatul Sembiring,
Di Republika hari ini (28/1) halaman 14 ada berita yang cukup mengejutkan saya. Judulnya ”PKS Siap Jadi Partai Terbuka Bagi Non Muslim”.
Ada beberapa hal yang ingin saya klarifikasi:
1. Benarkah statemen salah satu pembesar PKS di sana bahwa dalam rangka menjadi ”big party” dengan raihan dukungan 20 persen suara rakyat pada Pemilu 2009 nanti PKS siap menjadi partai terbuka bagi non muslim? PKS katanya ingin memaknai Islam dalam pengertian esensinya, dan bukan pada formalitasnya.
2. Ada pula statemen bahwa perubahan menjadi partai terbuka ini dalam rangka menciptakan situasi yang damai dan menghindari kekerasan seperti terorisme atas nama agama.
Bagi saya, terus terang langkah PKS kali ini cukup mengagetkan. Ini adalah pragmatisme politik yang (maaf) bisa makin menjauhkan diri dari Islam. Coba pikirkan dengan jernih, mana mungkin ada non muslim mau bahu membahu dengan PKS dalam memperjuangkan Islam?
Juga, tujuan merangkul mesra non muslim dalam rangka menciptakan situasi damai dan menghindari terorisme atas nama agama, sama saja dengan mengamini opini yang dikembangkan Amerika dan antek-anteknya selama ini bahwa sesungguhnya Islamlah biang teroris dan sumber kekerasan. Naudzu billah min dzalik.
Saya mohon pencerahan atas berita ini, apakah memang PKS sekarang sudah
makin ”modern”? Atau wartawannya saja yang salah kutip (kodenya: aas/ant).
Surabaya, 28 Januari 2008
M. Ihsan Abdul Djalil
Surat terbuka ini saya copy dari salah satu Milis di multiply dan membuat saya tergelitik untuk mengomntari serta menanyakan Tanya Tanya yang ada diotak saya yang penuh Tanya. Hehehehe,
HebOH….pertama berita ini turun dikalangan teman teman aktivis YM, kaget pertama kali baca dan langsung bilang
“Woiii,,, jangan fitnah dulu lah. Biarkan teman kita yang di PKS menjelaskan dulu”
beberapa argument datang secara tidak mengenakkan (memang kebenaran itu PAHIT dan menyakitkan)
yang sungguh mencengangkan lagi PKS mengaku Partai Plural dan katanya emang dari dulu lihat di www.pk-sejahtera.org.
hmmmmmmmmm,,,MIRIS! PKS terlanjur berbasic islam. Kini jadi PLURAL,,,,,
Arrrgggghhhh tabayun nindy ! dan beberapa kali diskusi dengan teman teman diluar harokah PKS, selalu NEGATIV maka dari itu berikan kami JAWABAN !
Satu hal yang saya mau tanyakan pada teman teman PKS yang budiman dan budiwati.
Bagaimana dengan seruan Allah tentang. Surat Al-Baqarah Ayat 120
mudah mudahan ada yang bisa menjawab dan sudi menjawab
“walan tardaa ‘anka alyahuudu walaa alnnashaaraa hattaa tattabi’a millatahum qul inna hudaa allaahi huwa alhudaa wala-ini ittaba’ta ahwaa-ahum ba’da alladzii jaa-aka mina al’ilmi maa laka mina allaahi min waliyyin walaa nashiirin”
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. “
bagaiaman dengan seruan dan peringatan Allah SWT diatas ini ?
Dalam ayat tersebut, Allah Swt berfirman: Wa lan tardhâ ‘anka al-Yahûdu wa lâ al-Nashârâ (orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang dan emang kaga bakalana senang sama orang islam). Ayat ini ngasih tau sikap Ya-hudi dan Nasrani terhadap Rasu-lullah saw dan para pengikutnya, tentunye kite-kite ini ummat Islam. Bahwa kedua golongan ahli kitab itu tidak akan ridha terhadap umat Islam. Sikap kaya gitu ga berlaku di masa lalu, tapi juga sekarang, dan nanti. Kenyataan itu dilukiskan ayat ini dengan kata LAN.
Secara bahasa, kata lan dipake buat menafikan sesuatu di masa datang. kalo dinyatakan lan tardhâ ‘anka al-Yahû-du, berati kaum Yahudi itu ga bakalan ridha kepada kamu (Nabi Muhammad saw dan para peng-ikutnya) sampe selamanya (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’-ân al-’Azhîm, I/155; Ib-nu ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajîz). Sikap yang sama juga dilakukan kaum Nashranai. Kata lâ sebelum al-Nashâra itu berguna buat mengukuhkan makna nafi sebelumnya (al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî)
Karena Islam yang jadi pangkal penyebab kebencian mereka, kebencian mereka baru berakhir kalo kite kite nieh, umat Islam mao ngelepasin islam dan ikut agama mereka. Dalam frasa sesu-dahnya Allah Swt berfirman: hattâ tatta-bi’a millatahum (hingga kamu mengikuti agama mereka). Kata hattâ ngasih makna ghâyah atau sering disebut batas akhir. Itu berarti, mereka baru merasa lega alias seneng kalo umat Islam mau ikut ke agama mereka..
Bertolak dari pemahaman kek gini, apabila ada seorang Muslim atau kelompok Islam terlihat dicintai kaum Yahudi dan Nashrani, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, kecintaan itu tidak tulus. Mereka hanya berpura-pura senang terhadap individu atau kelompok Muslim itu. Namun di dalam hati mereka sebenarnya masih tersimpan kebencian. bukan su’udzon, tapi kenyataan!
Di Parlemen dulu, M Natsir biasa kongkow dengan lawan-lawan politiknya yang berbeda keyakinan, baik itu Kristen maupun Kebatinan (Kejawen-kejawen gitu deh). Mereka ngopi bersama, kadang cengengesan bareng2. Tapi, Natsir tau tuh, mereka tetep kaga ridha dengan perjuangan penerapan syariat Islam kek yang ada di Piagam Jakarta ntu.
Kedua, kecintaan itu memang benar-benar tulus. kalo itu yang terjadi, berarti individu atau kelompok Islam itu telah mengikuti agama dan pandangan hidup Ahli Kitab itu. Semakin dia di-cintai, berarti dia kian jauh terperangkap dengan ajaran agama, pandangan, atau ideologi mereka. Sekalipun si Muslim kadang kaga sadar. Kondisi kedua inilah yang sebenarnya mereka inginkan dan senantiasa mereka upayakan. na’udzubilah!
sok mangga, argument saya yang dhoif ini di komentarin!