08-08-08 Ngga ngaruh <—kata bu Soto :D

Laper,
Jum’at siang perut keroncongan, ambil langkah lima ribu menuju warung Soto bu ( aduuuhh ampe sekarang gw kaga tau tuh nama ibu itu,, hehehe :D )
“pesen satu mangkok, nasinya setengah, asin, jangan pake kecap. Minum Fruit Tea”
Ibu itu dah tau selera gw ternyata…. :”>
“wah….si ibu dah tau selera aku”
“Ya tau, lawong kalo makan siang disini terus!”
wakakaka, secara nih warung makan yang paling deket dari tempat gawe.
“Ngomong2 ada acara apaan bu?”
tanya-tanya, iseng-iseng berhadiah hohohoh
“Acara partai nomor delapan bagi-bagi delapan rupa sembako”
“Oooo….Ibu ngga ikutan?”
“saya sudah ngambil tadi dikasih pertama, sama dikasih ini”
Ibu itu nyodorin sebuah booklet
“Oooo…..intinya mah nyuruh milih nomer delapan ya bu?”
“Yah neng, yang udah puguh nemplok di kursi pejabat ajah ngga ngaruh sama kehidupan orang miskin kaya saya”
“Jangan gitu lah bu :(   “
(ada rasa sedih juga gw si ibu ngomong kek gitu)
“Mungkin belum bu, butuh proses” jawab gw nyantai
“Proses apa toh nduk, sudah jelas semuanya tuh cuma omong kosong. Mau partai islam atau ndak partai islam tujuanya mah sama,mau nomor delapan atau ndak kalo sudah diatas babay”

Wahahahaha ….. makin lama gw makin seneng nih, karena seorang pedagang sotopun sudah mulai mengkritisi demokrasi “sialan” ini.

“O…gitu, emang kemarin ibu ngga milih?”
“saya mah ikut2an aja, kalo ada kampanye doang ikut2. Lumayan dapet 10-20 ribu”
“Ooooo….. terus milih apa bu?” berharap tuh ibu ngasih jawaban
“GOLPUT”
Hahaha……Ummat makin cerdas. Hidup berdasarkan asas manfaat. Jangan salahkan Mereka, karena penguasa2 kita yang licik yang mengajarkan mereka seperti itu.
Hohoho
“Dah jadi neng sotonya, mangga disantap”
“Bismillah….” makan dolo dewh ^_^

Ditulis dalam Cerita. 2 Komentar »

Aku hanya Ingin dimanjakan didalam Kamar….!

Memeluk, dipeluk, menyium, dicium, dan beberapa hal lagi yang bisa dikerjakan oleh sepasang kekasih. Itu sudah lumrah ada dimana-mana untuk zaman sekarang. Begitu terlihat payah seandainya tak bisa kita lakukan itu. Rani merebahkan tubuhnya, dihentakkan semua diatas sofa empuk.

“Kenapa ?” tanya Pita sang sahabat.
“Aku kesal!”
“Kesal?”
“Ya kesal”
“Kenapa?”
“Hm….sudah kuduga kau pasti akan bertanya ‘KENAPA’ “
“Bukankah memang harusnya seperti itu pertanyaanku?”
“Ya…aku tau!”
“So….?”
“Aku ingin bercerita!”
“Baiklah, aku akan mendengarkanya”
“Tapi sebelumnya aku ingin bertanya!”
“Silahkan, aku akan jawab jika aku bisa”
“Pernah disentuh oleh pria?”
“Pria?”
“Ya…pria yang bukan dari golongan keluarga mu tentunya”
“Oh…..”

Pita diam sejenak, dia bingung harus menjawab apa.
“Pertanyaan mu aneh!”
“Sudahlah jawab saja”
Rina melihat Pita dengan mimik muka yang dipenuhi oleh rasa penasaran.
“Sudah!” jawab Pita terpaksa.
“Dibagian apa!”
“Sudahlah Rani, pertanyaanmu begitu konyol. Aku tak suka.”
“OK…aku minta ma’af”
“Itu masa lalu yang buruk Ran, masa lalu yang harus kita jadikan ibroh. Masa lalu yang tak layak untuk dikenang. Karena kita sudah mempunyai Tsaqofah (Red : Pemahaman Tentang Islam)”
“PINTAR………” Rani langsung terperanjat dari sandaranya di sofa mpuk itu.
“Maksud mu?”
“Nah….sekarang aku mulai bercerita”

“Aku tadi habis dari Stasiun Kota, mengantarkan sesuatu yang penting untuk seseorang, aku melihat sepasang muda muda berpelukan mesra….sangat mesra. Saking mesranya sudah seperti suami istri…..”
“Itu hal yang biasa terjadi Ran….” Potong Pita.
“Tunggu, aku belum selesai bercerita”
“Ok……sorry”
“Lalu aku pindah duduk, aku duduk digerbong ke tiga dari 11 gerbong kereta, lalu……”
Rani terdiam sejenak.
“Lalu?” Pinta Pita penasaran.
“Aku melihat wanita dan Pria, wanita yang berpakaian Muslimah nyaris sempurna, Pria yang memakai celana diatas mata kaki. Sungguh indah melihat mereka berdua….”
“Lalu apa masalahnya Ran?”
“Aku belum selesai cerita Pita….”
“Ok…aku tak sabar…”
“Jangan diptong lagi kalo aku bercerita”
“Baiklah”
“wanita itu memakai kerudung dibawah pinggul, roknya berwarna Hijau tua serta baju atasan yang dipakai sangat indah. Tiba-tiba lelaki itu mencium kepala istrinya. Dibalas dengan wanita yang mungkin istrinya dengan pelukan hangat, diantara desakan manusia yang bermacam aktifitas. Ada penjual, pengemis, pencopet, dan banyak lagi. Kamu tau, aku langsung tidak respek dengan mereka”
“Lho, Kenapa?”
“Kamu tau jawabanya”
Rani beranjak dari sofa itu. Pita terdiam sambil berfikir keras.
“Mau kemana?”
“Ingin menitip pesan kepada malaikat”
“pesan?”
“Ya. sesuatu pesan?”
Pita menjadi bingung sangat dibuatnya.
“Menitip pesan untuk disampaikan kepada calon suamiku, entah siapapun itu”
“Hah?”
“Aku hanya ingin dimanjakan didalam kamar, dan didalam Rumah”

Pita menghela nafas….

Ditulis dalam Cerita. 3 Komentar »